Harga batu bara menembus USD152,45 per ton, level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Kenaikan itu berlangsung ketika pasokan global terbatas dan kebutuhan energi meningkat menjelang musim dingin.
Data tersebut dilansir dari Idxchannel pada Minggu, 1 November 2026. Posisi harga itu menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2024. Dalam pergerakan lebih panjang, batu bara juga mencatat penguatan sebesar 2,63 persen dalam empat pekan dan naik 38,06 persen dalam 12 bulan.
Permintaan energi global meningkat
Pergerakan harga batu bara dipengaruhi beberapa faktor di pasar energi internasional. Ketersediaan pasokan yang terbatas berhadapan dengan kebutuhan energi yang meningkat menjelang musim dingin. Ketidakpastian di pasar energi turut menjaga harga komoditas tersebut pada level tinggi sepanjang pekan terakhir.
Perbedaan harga dengan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) juga menjadi pertimbangan pembeli di Asia dan Eropa. Harga batu bara disebut sekitar 80 persen lebih rendah dibandingkan LNG. Kondisi itu mendorong batu bara tetap dipertimbangkan sebagai sumber energi untuk memenuhi kebutuhan menjelang musim dingin.
- Harga batu bara: USD152,45 per ton.
- Kenaikan dalam empat pekan: 2,63 persen.
- Kenaikan dalam 12 bulan: 38,06 persen.
- Perbandingan harga dengan LNG: batu bara sekitar 80 persen lebih rendah.
Badan Energi Internasional (IEA) pada September memperkirakan konsumsi batu bara dunia akan mencapai rekor tertinggi pada tahun ini. Proyeksi tersebut muncul saat sejumlah negara menjalankan kebijakan peralihan menuju energi yang lebih bersih. Pada saat yang sama, beberapa pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di Eropa dan Amerika Utara telah ditutup.
Produksi Indonesia mengalami tekanan
Perkembangan produksi Indonesia menjadi perhatian pasar internasional karena Indonesia disebut sebagai eksportir batu bara terbesar dunia. Pembatasan ekspor yang mulai diperketat berdampak terhadap ketersediaan pasokan di pasar global.
Pengiriman batu bara Indonesia tercatat turun 23 persen pada Agustus. IEA juga memperkirakan produksi batu bara nasional berkurang lebih dari 12 juta ton sepanjang tahun ini. Penurunan tersebut dikaitkan dengan kuota produksi yang lebih rendah dan ketidakpastian kebijakan.
Perubahan pasokan Indonesia berlangsung ketika kebutuhan batu bara dunia tetap tinggi. Di satu sisi, sejumlah negara mendorong penggunaan energi yang lebih bersih dan menutup sebagian pembangkit berbahan bakar batu bara. Di sisi lain, proyeksi konsumsi global dari IEA menunjukkan komoditas tersebut masih memegang peran besar dalam pemenuhan energi tahun ini.
Situasi itu menempatkan kebijakan produksi dan ekspor Indonesia sebagai salah satu faktor yang diperhatikan dalam dinamika pasar batu bara internasional. Kenaikan harga hingga level tertinggi sejak Oktober 2024 berlangsung bersamaan dengan penurunan pengiriman dari Indonesia dan perkiraan berkurangnya produksi nasional.