Ilmuwan China mengembangkan metode untuk memanfaatkan karbon dioksida di atmosfer Mars sebagai bahan dasar pembuatan metanol. Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Deep Space Exploration Laboratory, lembaga yang didanai pemerintah dan berbasis di Hefei.
South China Morning Post melaporkan pada 1 November 2026, penelitian itu dipublikasikan secara daring dalam Journal of Deep Space Exploration. Tim peneliti yang terdiri atas Zhang Zhe dan rekan-rekannya mengembangkan katalis yang membantu karbon dioksida bereaksi dengan hidrogen untuk membentuk metanol.
“Metanol bisa berfungsi sebagai bahan bakar untuk menghasilkan listrik, memberikan pemanas, dan menggerakkan rover di Mars, serta dapat digunakan sebagai bahan baku kimia untuk membuat cairan antibeku, bahan bangunan, dan produksi lainnya,” tulis Zhang Zhe dan rekan-rekannya.
Atmosfer Mars tersusun atas lebih dari 95 persen karbon dioksida. Dalam rancangan pemanfaatan sumber daya setempat, gas itu diproses bersama hidrogen. Para peneliti menyebut hidrogen dapat diperoleh dari es yang tersedia di Mars.
Capaian dalam uji laboratorium
Katalis yang diuji menggabungkan tembaga dan natrium pada kristal dengan bentuk menyerupai spons. Dalam percobaan di Bumi, bahan tersebut menghasilkan metanol sebanyak 11 kali lebih banyak dibandingkan penggunaan tembaga saja. Katalis itu juga mengurangi terbentuknya produk sampingan yang tidak diinginkan.
Metanol yang dihasilkan dapat memiliki beberapa fungsi dalam operasi di Mars. Menurut para peneliti, senyawa tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk:
- menghasilkan listrik;
- menyediakan pemanas;
- menggerakkan wahana penjelajah;
- menjadi bahan dasar cairan antibeku dan bahan bangunan.
Gagasan utama penelitian ini adalah mengurangi ketergantungan misi masa depan pada pasokan yang dikirim dari Bumi. Tim peneliti memandang Mars sebagai tujuan penting untuk pendaratan manusia dan kemungkinan tinggal dalam jangka panjang. Jika bahan bakar dan bahan kimia dasar dapat diproduksi di lokasi, kebutuhan pengiriman dari Bumi dapat dikurangi.
Namun, temuan tersebut belum berarti teknologi ini siap digunakan dalam misi berawak. Pengujian yang dilaporkan berlangsung di laboratorium di Bumi. Para peneliti sendiri menyatakan bahwa pembuatan metanol dari karbon dioksida atmosfer Mars baru terbukti memungkinkan secara teknis hingga batas tertentu. Pernyataan itu menunjukkan bahwa masih terdapat tahapan penelitian sebelum teknologi tersebut dapat diterapkan di lingkungan Mars.