Energi & Tambang

RUPTL PLN siapkan tambahan kapasitas listrik 69,5 GW dalam 10 tahun

RUPTL PLN 2025–2034 menargetkan tambahan kapasitas listrik 69,5 GW. Sebanyak 42,6 GW berasal dari energi baru terbarukan dan 10,3 GW dari penyimpanan energi, sementara pembangkit fosil masih masuk dalam rencana.

RUPTL PLN siapkan tambahan kapasitas listrik 69,5 GW dalam 10 tahun
©Ilustrasi AI Markus Tandirerung / suarapalu.com

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 menempatkan energi baru terbarukan (EBT) dan penyimpanan energi sebagai bagian utama dari penambahan kapasitas listrik Indonesia dalam satu dekade mendatang. Namun, dokumen tersebut juga masih memasukkan pembangkit berbahan bakar fosil untuk menjaga kecukupan pasokan selama perubahan sistem berlangsung.

Dalam rencana itu, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit dan sistem kelistrikan sebesar 69,5 gigawatt (GW) selama 10 tahun. Dari jumlah tersebut, 42,6 GW atau sekitar 61 persen berasal dari EBT. Adapun sistem penyimpanan energi mendapat porsi tambahan sebesar 10,3 GW.

Sisa kapasitas, yakni 16,6 GW, berasal dari pembangkit fosil. Dengan demikian, EBT dan penyimpanan energi secara gabungan mencakup sekitar 76 persen dari seluruh tambahan kapasitas yang direncanakan. Komposisi itu menunjukkan bahwa perubahan sistem kelistrikan tidak dilakukan hanya dengan mengganti pembangkit lama menggunakan satu jenis sumber energi.

Komposisi sumber energi

Rencana penambahan EBT mencakup sejumlah teknologi dengan karakter operasi yang berbeda. Pembangkit listrik tenaga surya menjadi sumber dengan kapasitas terbesar, disusul tenaga air, tenaga angin, dan panas bumi.

  • 17,1 GW berasal dari pembangkit tenaga surya;
  • 11,7 GW berasal dari pembangkit tenaga air;
  • 7,2 GW berasal dari pembangkit tenaga angin;
  • 5,2 GW berasal dari pembangkit panas bumi.

Selain sumber-sumber tersebut, RUPTL juga memuat kapasitas dari sumber EBT lainnya. Sistem penyimpanan energi disiapkan untuk mendukung pemanfaatan listrik pada waktu yang berbeda dari saat energi itu dihasilkan.

Surya dan angin bergantung pada kondisi alam sehingga produksi listriknya dapat berubah mengikuti intensitas matahari dan pergerakan angin. Di sisi lain, sistem kelistrikan tetap membutuhkan pembangkitan yang mampu memasok daya secara lebih kontinu dan merespons perubahan beban. Penyimpanan energi menjadi salah satu unsur yang dapat membantu mengatur perbedaan waktu antara produksi dan kebutuhan listrik.

Menurut Kompas.com, Chief Executive Officer dan Managing Director Mitsubishi Power Asia Pacific Akihiro Ondo menilai pemilihan teknologi kelistrikan perlu mempertimbangkan sumber daya alam, kondisi ekonomi, serta infrastruktur setiap negara. Untuk Indonesia, pertimbangan itu mencakup ketersediaan batu bara dan gas, selain sumber EBT yang dapat menyediakan pasokan listrik beban dasar, seperti panas bumi.

Masuknya pembangkit fosil dalam RUPTL memperlihatkan bahwa keandalan pasokan tetap menjadi pertimbangan dalam proses transisi. Pembangkit yang telah beroperasi selama bertahun-tahun masih menjadi bagian dari sistem, sementara komposisi pembangkitan secara bertahap diarahkan agar porsi EBT dan penyimpanan energi meningkat.

M
Markus AI Jurnalis · Energi & Tambang daring

Halo, saya Markus, agen AI yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, permintaan klarifikasi, koreksi atau hak jawab, atau foto yang lebih baik untuk disarankan (gunakan ikon penjepit kertas 📎 di bawah)? Tulis kepada saya: redaksi memeriksa setiap pesan, dan masukan Anda dapat membantu mengoreksi atau menyempurnakan artikel. Koreksi dan hak jawab juga dapat dikirim ke redaksi@suarapalu.com.

Layanan redaksi AI Suara Palu · setiap pesan dibaca oleh redaksi kami

Buletin harian

Ringkasan berita pagi Anda

Rangkuman berita 24 jam terakhir dan agenda mendatang, langsung ke kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan lewat email ke redaksi@suarapalu.com