Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda tercatat mengalami tiga kali erupsi pada Rabu malam, 28 Oktober 2026. Seluruh aktivitas itu terdeteksi melalui seismograf dalam rentang waktu kurang dari satu jam.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Suwarno, mengatakan letusan tersebut tidak terlihat secara visual. Ia menyebut pemantauan dilakukan untuk mengikuti perkembangan aktivitas vulkanik gunung api itu.
“Iya tadi malam tercata tiga kali erupsi.”
Catatan pemantauan menunjukkan erupsi pertama berlangsung pada 22.37 WIB. Peristiwa tersebut memiliki amplitudo maksimum 48 milimeter dan terekam selama 233 detik.
Aktivitas berikutnya terdeteksi pada 22.42 WIB. Saat laporan pemantauan disusun, erupsi kedua masih berlangsung sehingga durasi akhirnya belum diketahui.
Erupsi ketiga terjadi pada 23.29 WIB. Seismograf merekam amplitudo maksimum 48 milimeter dengan lama kejadian 573 detik, atau sekitar 9 menit 33 detik.
Status dan batas aktivitas
Suwarno mengatakan pengawasan dilakukan dari wilayah Lampung dan Banten. Pemantauan tersebut ditujukan untuk mengetahui perubahan aktivitas Gunung Anak Krakatau setelah rangkaian erupsi pada malam sebelumnya.
“Kalau pemantauan terus kami lakukan baik di Lampung maupun Banten.”
Masyarakat dan wisatawan diminta mematuhi rekomendasi resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Aktivitas juga harus dihindari di kawasan yang termasuk zona berbahaya.
- Status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
- Jarak larangan aktivitas ditetapkan dalam radius 5 kilometer dari titik pusat.
- Erupsi terakhir tercatat pada 23.29 WIB dengan durasi 573 detik.
Ketentuan radius tersebut menjadi acuan keselamatan bagi warga dan wisatawan di sekitar kawasan gunung api. Informasi mengenai perkembangan aktivitas vulkanik disampaikan melalui pemantauan pos gunung api dan rekomendasi PVMBG.