Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat NASA menyoroti peningkatan aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sangat tinggi di wilayah Papua dan Kalimantan sepanjang tahun 2026. Lonjakan ini berkontribusi pada pelepasan emisi karbon dalam jumlah besar, menurut laporan NASA yang dirilis pada 22 Oktober 2026.
“Papua telah muncul sebagai garis depan baru deforestasi Indonesia,” kata Yang Chen, peneliti dari University of California, Irvine, yang dikutip dari laman NASA.
Dalam laporan tersebut NASA memetakan titik panas dan menyajikan citra satelit, termasuk rekaman NOAA-20 yang memperlihatkan kepulan asap tebal dari bagian selatan Pulau Papua pada 11 Oktober 2026. Asap yang meluas pada September dan Oktober menyebabkan penurunan kualitas udara dan gangguan aktivitas, termasuk penundaan penerbangan, menurut laporan.
Analisis emisi menggunakan data dari Global Fire Emissions Database (GFED) menunjukkan kebakaran di Papua Nugini telah melepaskan hampir 32 megaton karbon hingga 17 Oktober 2026. Di sisi lain, emisi karbon akibat kebakaran di wilayah Papua bagian Indonesia telah menembus 35 megaton, angka yang menurut laporan menempatkan 2026 sebagai salah satu tahun dengan emisi tinggi, hanya kalah dari beberapa kejadian ekstrem pada 1997 dan 2015.
Guido van der Werf, ilmuwan dari Wageningen University & Research dan pengembang GFED, memperkirakan emisi tahun ini berpotensi menjadi yang tertinggi dalam catatan untuk beberapa wilayah yang terdampak. Robert Field, peneliti NASA Goddard Institute for Space Studies dan Columbia University, menyoroti sifat asap yang terkadang masuk ke lapisan atmosfer lebih tinggi namun sebagian besar tetap berada dekat permukaan sehingga memperburuk kualitas udara lokal.
“Ini situasi yang mengerikan,” ujar Robert Field, dikutip dari laman NASA.
NASA juga mencatat perbedaan pola kebakaran di nusantara: wilayah barat seperti Sumatra dan beberapa daerah lain mencatat aktivitas kebakaran relatif lebih rendah dibandingkan tahun-tahun kekeringan sebelumnya, sementara fokus kebakaran bergeser ke timur, termasuk Papua dan bagian Kalimantan.
Implikasi dan konteks
- Lonjakan emisi dalam skala puluhan megaton memiliki implikasi jangka pendek untuk kualitas udara dan kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.
- Dari sudut pandang iklim, karbon yang dilepaskan memperburuk konsentrasi gas rumah kaca atmosfer, berkontribusi pada pemanasan global.
- Petunjuk penyebab utama terkait dengan kekeringan kuat yang dipicu fenomena El Niño, yang menurunkan kelembapan dan meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran.
Data dan citra satelit menjadi alat penting dalam memantau penyebaran kebakaran dan estimasi emisi. GFED memadukan penginderaan jauh dengan pemodelan untuk menghasilkan perkiraan emisi; para peneliti yang dikutip NASA menekankan bahwa angka-angka ini membantu mengidentifikasi tren regional dan kebutuhan mitigasi.
Laporan NASA menempatkan perhatian pada Papua sebagai wilayah yang baru-baru ini menunjukkan peningkatan deforestasi dan kebakaran, baik di sisi Papua Nugini maupun Papua bagian Indonesia. Peningkatan aktivitas ini mendorong lembaga internasional dan nasional untuk menilai kembali strategi pencegahan, penanganan kebakaran, serta perlindungan hutan dan lahan gambut.
Catatan statistik yang dikutip dalam laporan meliputi tanggal pengamatan satelit (11 Oktober 2026) dan angka emisi hingga 17 Oktober 2026 dari GFED. Pernyataan dan interpretasi yang dikutip berasal dari peneliti yang dikutip dalam laporan NASA yang diterbitkan pada 22 Oktober 2026.