BPJS Kesehatan mencatat 16,6 juta peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) teridentifikasi berisiko mengalami kanker leher rahim atau kanker serviks hingga September 2026. Namun, pemeriksaan lanjutan bagi peserta dalam kelompok tersebut masih rendah.
Deputi Direksi Bidang Kebijakan Penjaminan Manfaat BPJS Kesehatan, Afrizayanti, mengatakan hanya 2,27 persen peserta yang telah melanjutkan pemeriksaan melalui Pap Smear atau inspeksi visual dengan asam asetat (IVA). Data itu disampaikan dalam kegiatan Gebyar Pap Smear JKN 2026 pada Kamis, 29 Oktober 2026.
“Ternyata baru 2,27 persen peserta JKN tersebut yang berisiko yang menindaklanjutinya dengan pemeriksaan Papsmear ataupun inspeksi visual asam asetat (IVA),” ujar Afrizayanti.
Layanan digelar di sejumlah fasilitas kesehatan
Kegiatan tersebut dipusatkan di Kantor Cabang BPJS Kesehatan Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Pelayanan juga berlangsung secara serentak di lima fasilitas kesehatan di wilayah itu dan terhubung secara daring dengan fasilitas pelayanan kesehatan di sejumlah daerah di Indonesia.
Melalui kegiatan ini, BPJS Kesehatan mendorong peserta JKN yang telah teridentifikasi berisiko agar menjalani pemeriksaan berikutnya. Pemeriksaan itu ditujukan untuk membantu menemukan kelainan sejak tahap awal sehingga tindak lanjut dapat disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan kebutuhan medis peserta.
- 16,6 juta peserta JKN teridentifikasi berisiko kanker leher rahim hingga September 2026.
- Baru 2,27 persen peserta berisiko yang menjalani Pap Smear atau IVA.
- Kegiatan pemeriksaan berlangsung di Cikarang dan terhubung dengan fasilitas kesehatan di berbagai daerah.
BPJS Kesehatan menyatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari penguatan upaya promotif dan preventif, sekaligus peningkatan partisipasi peserta dalam menjaga kesehatan reproduksi. Pelaksanaannya melibatkan fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga medis, organisasi profesi, dan BPJS Kesehatan.
Pelayanan Pap Smear dalam Gebyar Pap Smear JKN 2026 dilaksanakan di lima titik, termasuk Puskesmas Sukadami. Rangkaian kegiatan itu diharapkan memperluas akses pemeriksaan bagi peserta serta meningkatkan tindak lanjut setelah proses skrining.