Februari 29, 2024

SUARAPALU.COM

Periksa halaman ini untuk berita utama terkini Indonesia, analisis, laporan khusus dari pusat kota besar termasuk Jakarta, Surabaya, Medan & Bekasi.

Dibutuhkan gotong royong untuk membangun tenaga kerja terampil Indonesia

Dibutuhkan gotong royong untuk membangun tenaga kerja terampil Indonesia

JAKARTA (ANTARA) – Indonesia memasuki fase bonus demografi dalam beberapa tahun ke depan. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan puncak periode dividen penduduk Tanah Air terjadi pada periode 2020-2030.

Bonus kependudukan ditunjukkan dengan jumlah penduduk usia kerja yang dua kali lipat jumlah penduduk anak dan penduduk lanjut usia. Dengan kata lain, jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia non-produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam beberapa kesempatan menyebutkan, Indonesia harus memanfaatkan peluang untuk mewujudkan Indonesia Emas pada tahun 2045.

Dua peluang tersebut adalah puncak bonus penduduk pada tahun 2030 dan semakin besarnya kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia, ujarnya.

Dividen demografi dapat diartikan sebagai manfaat ekonomi yang dapat merangsang investasi dan pertumbuhan ekonomi. Bagi Indonesia, situasi ini dapat dijadikan peluang untuk mengakselerasi perekonomian melalui peningkatan industri manufaktur, infrastruktur, dan usaha kecil dan menengah (UKM).

Banyak negara seperti Jepang dan Korea Selatan yang menjadi negara maju dan kaya karena keberhasilannya menyerap bonus demografi sehingga meningkatkan pendapatan per kapita dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Dalam kajiannya mengenai hubungan jumlah penduduk dengan pertumbuhan ekonomi, SM Adiotomo mengemukakan bahwa bonus penduduk dapat berubah menjadi bencana demografi seiring bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia, sementara transisi dari remaja ke usia produktif belum tuntas.

Selain itu, jika negara tidak melakukan investasi sumber daya manusia secara optimal, maka bonus penduduk tidak akan berdampak signifikan.

Bonus populasi juga bisa menjadi bencana jika terjadi gelombang pengangguran besar-besaran yang semakin membebani anggaran negara.

Pada tanggal 14 Oktober 2030, dalam acara Kolaborasi Kebangsaan Menuju Indonesia Layak, Direktur Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Kiki Uliati, menyampaikan bahwa Indonesia menduduki peringkat kedua di Asia Tenggara dalam hal pengangguran, yaitu mencapai 5,45. Persen pada Februari 2023.

READ  Menavigasi Risiko dan Tantangan Otomasi Keuangan di Indonesia - Rabu, 4 Januari 2023

Faktor lainnya adalah lemahnya kualitas tenaga kerja Indonesia dibandingkan dengan semakin kompleksnya tuntutan pekerjaan saat ini dan masa depan. Selain itu, rata-rata sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas hanya 9,08 tahun.

Menurut Iuliati, pendidikan vokasi merupakan pengganti penciptaan sumber daya manusia yang berdaya saing dan terampil. Salah satu inisiatif Pemerintah adalah mendorong kolaborasi antara pendidikan vokasi dan dunia kerja melalui Program Merdeka Belajar. Diharapkan dapat memasuki kawasan industri melalui ini.

Departemen pendidikan vokasi dapat bekerjasama dengan dunia kerja, industri dan organisasi bisnis untuk melakukan magang atau penempatan kerja, sertifikasi keterampilan, pengembangan kurikulum bersama, kerjasama penelitian terapan, kelas pelatih vokasi, kelas industri dan berbasis proyek. Belajar dari industri.

Mereka dapat mendorong keterlibatan guru dan dosen dalam pelatihan profesional.

Mengembangkan keterampilan dan relevansi, berbagi sumber daya antara industri dan unit akademik, memperkecil dan memanfaatkan keahlian dan hasil penelitian atau inovasi, menggunakan pendidikan tinggi sebagai penelitian dan pengembangan untuk industri atau dunia kerja adalah kunci keberhasilan program. Pembebasan Pajak Super Bagi Badan Usaha, Peningkatan Efisiensi Rekrutmen dan Penyiapan Sumber Daya Manusia.

Namun konektivitas dan relevansi antara akademisi dan industri masih menghadapi banyak tantangan.

Salah satu tantangannya adalah terkait inkonsistensi. Hal ini disikapi dengan mengundang industri untuk berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum sekolah, melibatkan pekerja magang dalam mengajar dan melakukan magang. Upaya ini bertujuan untuk memastikan adanya kecocokan kompetensi antara kedua institusi.

Tantangan lainnya adalah jumlah lulusan dalam negeri yang lebih besar dibandingkan lapangan kerja.

Selain itu, terdapat ketidaksesuaian berdasarkan lokasi, misalnya jumlah SMK di suatu daerah melebihi jumlah lapangan kerja, sedangkan daerah lain kekurangan tenaga kerja.

READ  Di Kuching, seorang pria Indonesia dipenjara karena terlibat dalam balapan Piala Dunia

Namun memobilisasi sumber daya manusia dari satu daerah ke daerah lain tidaklah mudah, terutama pada tingkat sekolah kejuruan.

Oleh karena itu, kolaborasi antar pemangku kepentingan mulai dari kementerian, swasta, komunitas, dan media sangat diperlukan.

“Untuk itu, kami mempertimbangkan gagasan-gagasan yang digagas Gerakan Nasional Indonesia Layak (GNIK), mulai dari bidang regulasi, pengembangan program, dan kebijakan anggaran,” kata Uliati.

bersama dengan

Penyiapan sumber daya manusia yang terampil tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Sebaliknya, hal ini memerlukan keterlibatan aktif pemangku kepentingan terkait lainnya. Oleh karena itu, GNIK menjadi wadah berkumpulnya para praktisi berbakat di Indonesia.

Ketua Dewan Pengarah GNIK Pusat Yunus Tryongo mengatakan, pihaknya telah menyusun peta jalan yang mencakup perencanaan strategis untuk mencapai Indonesia efisien, termasuk meningkatkan kapasitas tenaga kerja untuk berintegrasi dengan teknologi digital saat ini.

Sebagai perkumpulan praktisi sumber daya manusia se-Indonesia, pihaknya berupaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di Indonesia, khususnya pada sektor industri prioritas seperti manufaktur, pariwisata, otomotif, serta industri digital dan kreatif.

Ke depan, sumber daya manusia Indonesia diharapkan mampu bersaing dengan tenaga kerja Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Apalagi Indonesia memang mempunyai sumber daya manusia yang mumpuni dengan segudang keterampilan dan prestasi. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta harus diupayakan untuk mengatur dan melaksanakan program intervensi dalam mengembangkan dan mempertahankan sumber daya manusia yang berkualitas.

Acara yang dilaksanakan pada 14 Oktober ini akan mempertemukan perwakilan dari GNIK, Badan Usaha Milik Negara (BPJS Kesehatan) dan Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN RI) untuk mewadahi semua sektor dalam pengembangan dan penerapan tenaga kerja Indonesia. Mereka bersaing dengan pekerja asing.

READ  Darurat sampah plastik di Indonesia

Berita Terkait: Dibutuhkan Kolaborasi Pemangku Kepentingan untuk Membangun Tenaga Kerja Terampil: GNIK
Berita Terkait: Bonus Kependudukan Buka Peluang Investasi Kesehatan

Oleh Indrani, Resinda Sulistyanthari
Penulis : Rahmat Nasushan
Hak Cipta © ANTARA 2023