Kelompok penyintas skizofrenia di Rumah Berdaya, Denpasar, Bali, mengembangkan cara baru untuk memanfaatkan ampas kopi. Bahan sisa tersebut diolah menjadi dupa yang memiliki nilai ekonomi sekaligus menjadi bagian dari kegiatan pemberdayaan bagi penyintas disabilitas mental.
Produk itu ditampilkan di sela penyelenggaraan The 9th ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) Conference and Exhibition 2026 di Bali. Kehadiran dupa berbahan ampas kopi memperlihatkan bahwa kegiatan pemberdayaan dapat berjalan beriringan dengan pemanfaatan limbah dari aktivitas konsumsi kopi.
Berawal dari pengembangan bahan baku
Pendiri Rumah Berdaya, I Nyoman Sudiasa, mengatakan pemanfaatan ampas kopi sebagai bahan dasar dupa mulai dikembangkan pada 2023. Sebelum menggunakan ampas kopi, kelompok tersebut memakai serbuk yang tersedia di pasaran.
“Awalnya kami menggunakan serbuk yang ada di pasaran. Kemudian, kami mencoba memanfaatkan ampas kopi untuk bahan dupa dan ternyata berhasil,” kata I Nyoman Sudiasa.
Menurut Sudiasa, pengembangan kegiatan itu mendapat dukungan peralatan dan pelatihan dari Pertamina sejak 2022. Dukungan tersebut menjadi bagian dari proses kelompok dalam mengembangkan keterampilan produksi dan mengolah bahan yang sebelumnya tidak digunakan.
Tahapan pengolahan ampas kopi
Ampas kopi dikumpulkan dari sejumlah mitra Rumah Berdaya. Setelah itu, bahan tersebut dijemur sekitar satu hari sampai kering. Ampas yang telah kering kemudian diayak untuk memperoleh tekstur yang lebih halus sebelum dicampur dengan bahan lain.
- Ampas kopi dikumpulkan dari sejumlah mitra.
- Bahan dijemur sekitar satu hari, lalu diayak.
- Ampas dicampur dengan serbuk kayu, air, dan tambahan aroma kopi.
- Adonan dicetak menjadi dupa dan dikeringkan kembali di bawah sinar matahari.
Dalam proses berikutnya, ampas kopi dicampur dengan serbuk kayu sebagai bahan perekat. Campuran itu diberi air dan tambahan aroma kopi, lalu dicetak menjadi dupa. Setelah berbentuk, produk kembali dikeringkan di bawah sinar matahari.
Kegiatan di Rumah Berdaya tidak hanya berfokus pada hasil produksi. Pengolahan ampas kopi menjadi dupa juga menjadi sarana bagi para penyintas untuk mengembangkan keterampilan dan meningkatkan kepercayaan diri. Produk yang dihasilkan kemudian memiliki peluang untuk dipasarkan sebagai barang bernilai ekonomi.
Inisiatif tersebut menempatkan ampas kopi sebagai bahan yang masih dapat dimanfaatkan setelah minuman selesai dikonsumsi. Pada saat yang sama, kegiatan ini memberi ruang bagi penyintas skizofrenia untuk terlibat dalam proses kerja secara berkelompok melalui tahapan pengumpulan bahan, pengolahan, pencetakan, hingga pengeringan.