Desember 5, 2022

SUARAPALU.COM

Periksa halaman ini untuk berita utama terkini Indonesia, analisis, laporan khusus dari pusat kota besar termasuk Jakarta, Surabaya, Medan & Bekasi.

Masyarakat Indonesia yang sadar lingkungan mengubah sepeda motor menjadi varian listrik, meningkatkan bisnis bengkel

JAKARTA – Awal tahun ini, pengusaha sosial Indonesia Iben Yuzenho Ismarson, 42, membolos mobilnya untuk naik sepeda motor listrik ke kantornya, 5 km dari rumahnya di Jakarta Selatan.

Tahun lalu, ia memutuskan untuk mengubah sepeda motor sportnya, Suzuki Thunder, yang digunakan pada tahun 2008 dan sebagian besar disimpan di garasinya, menjadi kendaraan roda dua yang bersih dan tenang di bengkel. Perubahan besar termasuk mengganti mesin 250cc dengan motor hub 3.000 watt dan baterai 72 volt 20 amp.

“Mesinnya sangat panas dan berasap. Berkendara lebih nyaman sekarang,” kata Sebumi, pendiri situs ekowisata. Sangat nyaman digunakan, pengisian daya di rumah hingga empat jam sudah cukup untuk seminggu.

Bagi Aiban, perubahan yang akan menelan biaya 30 juta rupiah (S$2.700), merupakan “langkah kecil” menuju gaya hidup ramah lingkungan yang lebih terjangkau daripada mengendarai mobil listrik dan memasang panel surya di rumah.

Karyawan perusahaan swasta Artin Yekhti Prabowo, 39, mengubah skuter Vespa PTS 100 miliknya menjadi versi listrik tahun lalu.

Menggambarkan dirinya sebagai “pengadopsi awal” teknologi kendaraan listrik, ia menghabiskan sekitar Rs 28 juta untuk mendapatkan skuter yang lebih kuat yang ditenagai oleh hub motor 3.000 watt dan baterai 72 volt 24 amp yang menggantikan mesin 100cc lamanya.

Pengalaman baru-baru ini berkendara di kondisi Bali yang menanjakMenunjukkan keterampilan yang baru diperoleh.

“Saya terkejut karena ini adalah pertama kalinya saya mencoba mendaki tempat yang sangat tinggi dengan skuter saya,” kata Ordin. “Anehnya, itu sangat kuat dan lepas landas dengan sedikit usaha. Itulah yang membuat skuter listrik begitu luar biasa,” katanya.

Kualitas juga datang dengan kinerja. Alih-alih menghabiskan 30.000 rupiah sehari untuk bahan bakar, ia percaya bahwa ia hanya perlu mengisi baterainya selama empat jam untuk melakukan perjalanan pulang pergi 44 km setiap hari dari rumahnya di Tangerang Selatan ke kantornya di Jakarta, yang menurutnya tidak terlalu mahal.

Bapak Iben dan Bapak Artin termasuk di antara para pecinta otomotif Indonesia yang menempuh rute ramah lingkungan. Namun bagi banyak pemilik sepeda motor, perubahan ini terlalu mahal. Begitu pula dengan membeli kendaraan roda dua listrik siap pakai yang dibanderol dengan harga sekitar Rp 28 juta masih belum terjangkau oleh sebagian besar masyarakat.

Pemerintah bertujuan untuk melihat 13 juta sepeda motor listrik di Indonesia pada tahun 2030, yang berarti sekitar 1,63 juta setiap tahun. Namun pada semester pertama tahun ini, jumlah sepeda motor listrik baru hanya berjumlah 18.000.

Sementara peralihan besar-besaran ke sepeda motor listrik belum terjadi, orang-orang yang sadar lingkungan menawarkan peluang bisnis baru ke bengkel skala kecil.

Emostra Garage di Jakarta Selatan mengubah sepeda menjadi sepeda motor listrik pada tahun 2017 sebelum menerima lebih banyak pesanan pada tahun 2018. Biaya pekerjaan Rs 20 juta atau lebih dan selesai dalam waktu sekitar 10 hari.

Pemilik bengkel, Bapak Dharmawan Somatmadja, 47, mengamati bahwa sejak tahun 2020, meskipun permintaan kendaraan roda dua listrik baru belum melebihi permintaan, permintaan konversi meningkat secara signifikan.

READ  Tidak ada laporan warga Indonesia terkena gempa 7,2 skala Richter di Jepang